PRAKTEK BUDIDAYA LADA YANG BAIK
Teknik
Pembibitan Lada Yang Berkualitas
1.
Pengantar
Perbanyakan tanaman lada (Piper nigrum L) untuk perkebunan
komersial dilakukan melalui teknik pemotongan tamanan (stek). Perbanyakan
tanaman dari bahan tanam yang berkualitas menjadi hal yang mendasar dalam
membangun perkebunan lada yang baik dan sehat. Di perkebunan lada komersial,
usia produktif tanaman lada dapat mencapai lebih dari 20 tahun dan bahkan bisa
mencapai lebih dari 30 tahun dengan sistem tanaman perdu. Kualitas bahan taman
atau bibit menjadi faktor yang menentukan kapasitas produksi tanaman lada ketika
dewasa (Tanaman Menghasilkan/RM) dan juga dapat pula menjadi sumber penyakit
tanaman, apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan pada tahap awal. Kesalahan
sekecil apapun pada tahap pembibitan dapat menyebabkan kapasitas produksi tanaman
tidak maksimal di kemudian hari. Membangun perkebunan lada pada tahap awal,
dimana tanaman belum menghasilkan, betul-betul membutuhkan investasi dan upaya
yang serius. Oleh karena itu yang perlu ditekankan adalah bagaimana memproduksi
bibit tanaman yang baik sehingga di kemudian hari akan benar-benar dihasilkan
perkebunan yang produktif.
2.
Memilih Tanaman Induk
Memilih tanaman induk yang sehat dan produktif adalah hal yang
sangat penting untuk berhasilnya budidaya tanaman lada. Berikut beberapa syarat
dalam memilih tanaman induk:
2.1. Syarat-syarat Tanaman Induk
1. Tanaman Lada yang sehat dengan pertumbuhan yang meyakinkan;
2. Jarak antara dua buku/ruas lebih pendek dan jumlah
cabang-cabang samping yang lebih banyak, serta lebih banyak tangkai buah di
setiap cabangnya;
3. Panjang tangkai buah lebih dari 7 cm (pada beberapa jenis akan
lebih pendek);
4. Tangkai buah memiliki buah dengan kesamaan ketebalan
dan ukuran buah yang
lebih besar;
lebih besar;
5. Kepadatan dari lada hitam kering adalah lebih dari
550 g setiap liter dan untuk lada putih adalah lebih dari 600 g setiap liter;
6. Bebas dari hama dan penyakit;
7. Kemampuan pengakaran yang baik dan pertumbuhan bibit tanaman
yang baik;
8. Keberlanjutan dan kesamaan dalam kapasitas menghasilkan lada;
9. Minimum hasil panen untuk lada hitam kering adalah
2.0 kg per tahun dari tanaman dengan ketinggian 3,5 m sd 4,5 m. Kriteria
seleksi ini harus diamati selama kurang lebih 2 tahun atau 2 kali masa panen secara
hati-hati.
3. Membuat Bibit Tanaman Melalui Teknik
Pemotongan Vegetatif (Stek)
Tanaman lada memiliki dua jenis cabang, yaitu (1)
cabang yang tumbuh lurus ke atas atau sulur panjat dan (2) cabang yang
menghasilkan buah/biji lada atau sulur buah. Beberapa cabang yang diperoleh
dari tunas tambahan (sulur cacing) atau tunas gantung tidak dapat menghasilkan
akar yang kuat menempel pada mata tunas dan tidak cocok sebagai bibit tanaman.
Cabang pohon yang tumbuh dari bawah yang memiliki akar yang tunggang yang
tumbuh pada musim penghujan adalah bibit yang biasanya dipilih untuk perkebunan
komersial. Sulur buah biasanya dijadikan bibit untuk lada perdu.
3.1. Membuat Bibit Tanaman Melalui Teknik
Pucuk Ujung
Cabang pucuk ujung ditemukan di bagian atas tanaman
merambat yang merupakan tunas yang paling kuat dari tanaman lada dengan akar
pucuk yang aktif dan memiliki sedikit cabang gantung. Cabang pucuk ini biasanya
digunakan untuk perkebunan lada di Malaysia, di beberapa tempat di Indonesia
dan juga di Brazil. Di Indonesia, potongan tanaman langsung di tanam di area
perkebunan lada. Di Brazil, tanaman induk yang memiliki batang yang berkualitas
digunakan hanya untuk bahan tanaman/bibit saja dan diganti setiap 2-3 tahun
sekali. Sistem yang diadopsi di Malaysia lebih sistematik dan mapan.
3.1.1. Memilih potongan batang
Secara umum, empat hingga lima mata tunas/buku/ruas
dikumpulkan dan langsung ditanam pada musim kemarau. Namun demikian, jika cuaca
tidak mendukung untuk penanaman, sistem sederhana diterapkan untuk membuat akar
stek sebelum ditanam ke lapangan/kebun. Empat hingga lima ruas dengan dua
cabang yang sehat dipotong dari batang tanaman induk lada sesuai kriteria yang disebutkan di atas dan tanaman tidak boleh berusia lebih dari
empat tahun.
Sebelum dipotong, posisi potongan yang akan diambil
harus berada di bawah 4 – 5 ruas dari cabang pucuk. Cabang-cabang samping yang
berada lebih bawah dari ruas dibuang dan cabang pucuk muda yang berada di atas
dengan 2 ruas juga dipangkas.
Di atas bagian pemotongan harus terdapat 4 ruas dengan
cabang-cabang yang sehat yang muncul dari dua ruas teratas. Jika kedua mata
tunas teratas tidak memiliki cabang, satu atau dua ruas lainnya dapat
diikutsertakan untuk menjamin agar potongan memiliki cabang samping pada bagian
atas ruas.
Di atas bagian pemotongan harus terdapat 4 mata tunas
dengan cabangcabang yang sehat yang muncul dari dua mata tunas teratas. Jika
kedua mata tunas teratas tidak memiliki cabang, satu atau dua mata tunas
lainnya dapat diikutsertakan untuk menjamin agar potongan memiliki cabang samping
pada bagian atas mata tunas. Setelah 10 - 14 hari, munculnya mata tunas tambahan
dapat dilihat pada mata tunas ke-5 (paling atas) dan ke-4 (gambar 02.a). Pemotongan
dibuat 1-2 cm di bawah mata tunas kesatu menggunakan pisau pangkas yang tajam.
Setelah pemisahan akar dari tiang panjak/pendukung, bahan tanam yang dipotong
dibungkus dalam kantong plastik yang bersih agar terhindar kontak langsung
dengan tanah. Tak lama kemudian potongan langsung ditanam di lapangan/kebun saat
musim hujan atau pasir atau di media taman polibag.
3.1.2. Membuat akar stek
Bahan tanam (bibit) dapat disemai di media pasir sungai
sebelum dipindah ke kebun/lapangan. Namun demikian, menyemai bibit dalam
kantong plastik transparan 250 gram dengan ukuran 20 x 12.5 cm juga dianjurkan.
Bagian bawah kantong dilubangi sedalam 2 – 4 cm untuk sirkulasi air. Penyiapan campuran
media taman yang sesuai untuk pembibitan dan sirkulasi pembuangan air sangat
penting untuk pertumbuhan akar, dan memperkecil kemungkinan penyakit.
Penyiapan campuran media tanam tersebut
direkomendasikan untuk menggunakan komposisi yang seimbang antara tanah lapisan
atas, kompos, dan pasir sungai. Kantong polibag diisi dengan media tanam 3 – 4 hari
sebelum disemai agar media tanam cukup padat sempurna. Saat menanam batang/stek
pada media tanam dilakukan dengan memasukkan batang/stek hingga dua ruas
terbawah terbenam dalam media tanam dan sedikit ditekan sehingga tertancap
secara baik. Kemudian media tanam harus disiram dengan air dan ditutupi dengan
plastik politine.
3.1.3. Bilik lembab dan pemeliharaan
Letakkan tanaman dalam media tanam (polibag) pada
ruangan yang lembap untuk menstimulasi tumbuhnya akar maupun tunas. Tanaman pot
diletakkan pada tumbukan berukuran panjang 1 m di lumbung pembibitan. Setelah
diairi, penerapan fungisida yang sesuai diperlukan untuk meminimalisir adanya penyakit.
Di atas tumpukan bibit dibuat setengah lingkaran
penyangga dengan menggunakan bambu berukuran 1,5 m (Gambar 03.). Di atasnya
ditutupi dengan plastik politine dan di pinggir bawah dari penutup diberi tanah
basah. Hal ini untuk menutupi struktur sehingga dapat menjamin kelembaban yang
maksimal di dalam ruangan.
Pada tahap ini, tingkat keteduhan di dalam ruang
pembibitan harus dijaga pada kelembapan 50 – 60%, sementara di dalam ruangan
kelembapan dijaga pada 85-90% untuk menstimulasi pertumbuhan akar dan tunas.
Penutup plastik politine dibuka setelah 3 minggu dan
semua rumput liar dan media tanam yang tunasnya mati dibuang. Setelah disiram
air dan diberi fungisida, jika diperlukan media tanam ditutup kembali dengan
politine. Dalam 3 - 4 minggu penutup dibuka secara bertahap. Pada saat pertama
kali dibuka penutupnya, tunas yang tumbuh dari bibit yang sehat akan terlihat
dan pada pembukaan kedua semua bibit sudah memiliki tunas dan akar.
Hingga bibit dalam pot siap disemai di ladang,
penyiangan rumput liar dan pemberian air harus selalu dilakukan secara teratur.
Apabila ada tanda-tanda adanya bibit yang terpapar penyakit ditemukan, maka
fungisida yang sesuai harus segera diberikan. Fungisida yang berbasis tembaga
sangat efektif/baik. Apabila komposisi media tanam yang digunakan tepat, maka
tambahan pupuk
tidak diperlukan. Namun demikian, apabila tanaman perlu disimpan selama lebih dari 12 minggu disarankan untuk memberi tanaman dengan pupuk urea 1% dengan jeda setiap 4 minggu sekali.
tidak diperlukan. Namun demikian, apabila tanaman perlu disimpan selama lebih dari 12 minggu disarankan untuk memberi tanaman dengan pupuk urea 1% dengan jeda setiap 4 minggu sekali.
Pemberian air setiap hari diperlukan dan dalam dua
hingga tiga minggu bibit akan berakar dan siap dipindahkan ke ladang. Bibit
yang sudah berakar disimpan di ruangan yang teduh, sejuk dan lembap hingga
waktu tanam di ladang.
3.1.4. Cara memindahkan bibit
Jika bibit atau stek perlu dibawa ke lokasi perkebunan
yang jauh, maka stek/bibit perlu dibaringkan pada permukaan yang bersih dan
disirami air untuk menjaga kelembapan. Potongan bibit/stek tersebut dibungkus
dalam lembaran plastik politin yang diikat bagian bawahnya. Proses pemindahan/ transportasi
harus dilakukan dalam waktu 4 - 6 jam untuk mengindari proses kekeringan/kekurangan
air.
Pemanfaatan stek batang menghasilkan tananam lada
dengan cabang-cabang mendatar yang membentuk semak kerucut (lada perdu) dan
dapat menghasilkan dalam dua tahun. Jumlah material yang bisa dikumpulkan terbatas
bagi perkebunan skala besar, namun cocok untuk produksi perkebunan pribadi dari
pembibitan skala kecil hingga menengah. Penanaman yang baik pada saat awal
musim hujan dilaporkan dapat mencapai produktifitas hingga lebih dari 95% bibit
yang ditanam dan cepat tumbuh. Pemantauan yang teliti terhadap munculnya
penyakit pada tahap ini sangat penting, sehingga tanaman yang sakit segera
dapat dihilangkan lebih dini untuk mencegah penularan.
4.
Pemeliharaan Terhadap Stok Tanaman
Induk Untuk Bibit Stek Batang Pucuk.
Kekurangan dalam teknik stek batang pucuk adalah
terbatasnya jumlah stek yang bisa dikumpulkan dari satu pohon induk, yakni
tidak boleh lebih dari empat kali pemotongan batang pucuk dalam satu pohon.
Oleh karena itu, pemeliharaan terhadap sumber pohon induk sangat diperlukan
agar tetap dapat memenuhi kebutuhan. Pada bagian bawah berikut akan dijelaskan
lebih lanjut mengenai pemeliharaan pemotongan tegak dari pohon induk.
4.1. Pembuatan kebun pohon induk
Dalam teknik ini, bedeng dengan ukuran lebar 45 cm,
kedalaman 45 cm dengan jarak antar parit sepanjang 1 m perlu disiapkan. Bedeng
diisi dengan campuran yang sesuai dari kotoran sapi atau kompos dan tanah
bagian atas (top soil). Batang panjar dari Gliricidia Sepium atau kayu dengan
tinggi 2,5 m disiapkan dengan jarak antar panjar 60cm. Panjar-panjar (batang
pendukung) tersebut ditanam di salah satu sisi bedeng dan setiap bibit lada
yang dipotong tegak ditanam di masing-masing batang panjar (pendukung).
Pemberian naungan dengan daun kelapa atau material lain
yang sesuai perlu dilakukan pada tahap awal ini hingga tanaman benar-benar
berkembang. Selain itu juga diperlukan naungan tambahan menggunakan jaring yang
sesuai akan lebih baik (Gambar 05).
Setelah tanaman berkembang lebih kuat, naungan dapat
diambil namun pemberian air dan pemeliharan mulsa/penyiangan rumput liar
sangatlah penting (Gambar 06). Tanaman akan tumbuh mencapai atas panjar dalam
kurun waktu 5 - 6 bulan dan dalam kurun waktu itu tanaman sudah siap untuk
dipotong sebagai bahan tanam (pembibitan) (Gambar 07 dan 08).
Pohon tanaman induk perlu diberi nutrisi yang memadai
agar dapat tumbuh sehat. Penyiapan campuran pupuk terdiri dari 90 gr Urea, 70
gr Triple Super Phosphate (TSP), 50 gr of Muriate of Potash (MP) dan 30 Kieserite
(KSP) dengan air 50 liter. Campuran tersebut disiramkan ke tanaman setiap 3
minggu sekali dengan ukuran 250 ml per pohon. Pemeliharaan dari gulma dengan
pupuk organik selama masa pertumbuhan tanaman sangat direkomendasikan. Hal ini
untuk menjaga kelembaban dan meningkatkan kondisi tanah, serta menjamin
pertumbuhan tanaman yang sehat. Pengawasan terhadap adanya hama dan penyakit
pada tanaman induk selama periode pertumbuhan sangatlah penting.
4.2. Pengumpulan bibit batang pucuk untuk
produksi perkebunan
Bibit batang pucuk dengan 2 mata tunas teratas yang
hampir dewasa dipangkas dari setiap cabang untuk mengaktifkan munculnya mata
tunas tambahan. Dalam 2 – 3 minggu, mata tunas tambahan akan muncul dan pada
mata tunas keempat dan kelima akan muncul di paling atas dua cabang mendatar
yang akan diambil untuk pembibitan (gambar 9).
Bibit-bibit tersebut dapat langsung ditanam pada saat
musim penghujan, namun disarankan agar ditanam pada kantong polybag yang
berukuran 20 x 12,5 cm yang telah diisi dengan media tanam yang terbuat dari
tanah lapisan atas (top soil), pasir sungai, dan kompos atau kotoran sapi.
Sebenarnya hanya satu hingga dua stek dapat dikumpulkan agar tanaman bisa terus
menerus tumbuh, potongan/stek ke 6-8 dari masing-masing cabang pohon induk
dapat juga dikumpulkan.
Stek ditanam dengan cara 3
mata tunas teratas berada di atas media tanam, dan dua mata tunas terbawah
dibenamkan dalam media. Media taman dalam kantong plastik (polybag) perlu
disirami dengan baik dan dijaga kelembaban ruangan selama 3 - 4 minggu dan
selanjutnya 6 - 7 minggu di kebun bibit. Dalam 3 bulan, tananam sudah siap
untuk ditanam di ladang saat sudah memiliki 3 - 4 tunas. Pengokohan bibit
tanaman selama 2 - 3 minggu sebelum dibawa ke ladang akan membantu untuk
menciptakan kekokohan tanaman ke depan.
4.3. Keuntungan dan kerugian pemanfaatan stek
batang (sulur panjat) untuk
produksi perkebunan lada
produksi perkebunan lada
Pemanfaatan stek batang (sulur panjat) untuk produksi
tanaman lada memiliki beberapa keuntungan dibanding dengan tanaman yang
dihasilkan dari stek cabang buah. Keuntungan tersebut antara lain:
Stek yang diperoleh dari tanaman induk sudah memiliki
tunas tambahan yang aktif/hidup dan akar sehingga membantu untuk meningkatkan
tingkat hidup tanaman di kebun bibit.
Ukuran stek lebih besar, sehingga tingkat keberhasilan
hidup tanaman di kebun bibit lebih tinggi dan pertumbuhan lebih cepat. Tanaman
yang diperoleh dari teknik stek batang dapat memproduksi cabang-cabang lateral/datar
dari pangkal sehingga dapat membentuk kanopi kerucut pada tahap awal (Gambar.12),
dan selanjutnya dapat berbentuk kanopi silinder dengan lebih banyak cabang.
Panen dapat mulai di tahun kedua penanaman.
Sementara kekurangan dari sistem ini adalah
keterbatasan jumlah stek batang pucuk yang bisa diperoleh dari satu pohon induk
dibandingkan dengan stek cabang buah. Oleh karena itu penting untuk memelihara
sumber pohon induk sebagaimana yang telah
dijelaskan di atas. Jika 100 batang dipelihara, maka dapat diperoleh 500
– 600 stek per panennya.
5.
Hama dan Penyakit
Jenis hama dan penyakit Hama utama yang menyerang
tanaman lada adalah penggerek batang (Lophobaris piperis), pengisap buah (Dasynus
piperis), dan pengisap bunga (Diconocoris hewetti). Penyakit utama tanaman lada
adalah penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora
capsici.
5.1. Penggerek batang (Lophobaris piperis)
Penggerek batang mempunyai empat tahapan pertumbuhan,
yaitu tahapan dewasa, telur, larva, dan pupa. Pada tahapan dewasa aktif terbang
dari satu tanaman ke tanaman lada lainnya. Tahapan dewasa makan buah, bunga,
dan pucuk tanaman lada, di kebun lada yang sering dipangkas, dan hama ini mudah
ditemukan pada luka pangkasan tanaman lada. Akibat serangan tahapan dewasa pada
buah muda menjadi kopong/kosong dan pada bunga menjadi tidak berkembang
sempurna. Serangga dewasa meletakkan telur di cabang dan batang tanaman lada.
Setelah menetas, larvanya menggerek jaringan tempat telur diletakkan, pada
tahapan ini umur larva 28 - 32 hari. Serangan larva pada jaringan tanaman lada
mengakibatkan jaringan tanaman lada rusak/mati. Tahapan pupa berada di dalam
jaringan tanaman lada yang mati akibat serangan tahapan larva. Serangan hama
ini mengakibatkan tanaman lada rusak, kualitas dan produksi lada rendah.
Tanaman inang serangga ini adalah lada, cabe jawa, dan sirih.
5.2. Hama pengisap buah (Dasynus piperis)
Tahapan dewasa aktif mencari makan dan meletakkan telur
pada tanaman inangnya. Akibat serangan pada tahapan dewasa, buah lada menjadi kopong/kosong,
produksi lada enteng. Serangga dewasa meletakkan telur pada tandan buah lada
dan menetas sekitar 6 - 7 hari. Telur setelah menetas menjadi nimpa, langsung
makan pada buah lada. Serangan nimpa dan dewasa pada buah lada mengakibatkan
buah lada menjadi berbercak dan kopong.
5.3. Pengisap bunga (Diconocoris hewitti)
Tahapan dewasa aktif untuk mencari makan dan meletakkan
telur pada bunga lada. Tahapan dewasa dan nimpa menghisap cairan bunga lada.
Akibat serangan tahapan dewasa dan nimpa bunga lada menjadi layu, kering
kemudian rontok, sehingga bunga lada gagal menjadi buah. Serangga dewasa
meletakkan telur pada tandan bunga lada dan menetas sekitar 5 - 7 hari. Setelah
menetas menjadi nimpa yang langsung makan pada pada bunga lada. Serangan pada
tahapan nimpa pada bunga lada mengakibatkan bunga lada rontok.
6. BUSUK PANGKAL BATANG (BPB) (PHYTOPHTHORA
CAPSICI)
Adalah hama dan penyakit utama yang menyerang tanaman
lada. Jamur Phytophthora capsici merupakan kendala produksi yang paling
ditakuti petani, karena menyebabkan kematian tanaman lada dalam waktu singkat.
Jamur Phytophthora capsici dapat menyerang seluruh bagian tanaman lada.
Serangan yang paling membahayakan apabila terjadi pada pangkal batang atau
akar. Gejala serangan dini sulit diketahui, gejala yang tampak seperti kelayuan
tanaman menunjukkan serangan telah lanjut. Serangan Phytophthora capsici pada
daun menyebabkan gejala bercak daun pada bagian tengah atau tepi daun.
Sepanjang tepi bercak tersebut terdapat bagian gejala berwarna hitam bergerigi seperti
gerinda yang akan nampak jelas bila gejala masih segar. Bagian tersebut tidak tampak
apabila daun telah mengering atau pada gejala lanjut. Apabila serangan jamur
terjadi pada satu tanaman dalam satu kebun, maka dapat diperkirakan 1 – 2 bulan
kemudian penyakit akan menyebar ke tanaman di sekitarnya. Penyebaran penyakit
akan lebih cepat pada musim hujan, terutama pada tanaman lada yang disiang bersih.
Apabila dijumpai tanaman terserang penyakit, maka tanaman sakit tersebut dimusnahkan.
Tanah bekas tanaman tersebut disiram bubur bordo kemudian diberi Trichoderma.
Penyulaman dapat dilakukan setelah dibiarkan minimal selama 6 bulan.
7. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU
Dianjurkan dalam budidaya lada untuk menyertakan
kegiatan lainnya, misalnya diintegrasikan dengan ternak disertai penanaman
penutup tanah (A. pintoi). Cara tersebut selain membuat sistem usaha tani lada
menjadi lebih efisien juga merupakan usaha Pengendalian Hama (termasuk
penyakit) Terpadu (PHT) yang ramah lingkungan dan berkesinambungan.
Pengendalian menggunakan pestisida kimiawi dilakukan pada saat populasi hama
atau intensitas serangan patogen penyakit tinggi. Tujuannya untuk menekan perkembangan
hama dan patogen, selain itu diikuti aplikasi pengendalian secara hayati mempergunakan
musuh alaminya. Komponen teknologi budidaya lada dengan pendekatan ekologi yang
efisien dan berkelanjutan adalah sbb:
7.1. Pengendalian secara kultur teknik
Bahan tanaman sering menjadi sumber inokulum hama dan
penyakit lada dan menjadi sumber penyebaran hama dan penyakit di lokasi baru.
Oleh karena itu menggunakan bahan tanaman yang sehat dengan melakukan seleksi
bahan tanaman yang akan digunakan untuk bibit merupakan hal yang penting.
Pemilihan varietas dilakukan secara hati-hati karena sampai saat ini belum ada
varietas yang toleran terhadap semua jenis hama dan penyakit. Untuk daerah
Kalimantan Barat, sebaiknya menggunakan varietas Bengkayang yang dikenal
memiliki potensi produksi 4,67 ton lada putih per hektar. Walaupun varietas ini
rentan terhadap BPB dan skala medium terhadap penyakit kuning, tapi adaptif
terhadap air dan tidak diketahui terhadap penggerek.
7.2.Tajar/tiang panjat hidup dan pemanfatan
biomas
Pada saat harga rendah pemeliharaan lada menjadi tidak
intensif, pemupukan tanaman lada tidak dapat dilakukan. Akibatnya tanaman lada
menjadi lemah, peka terhadap hama dan patogen. Biomas hasil pemangkasan tajar
(dadap dan gliricidae) yang dibenamkan dalam tanah akan meningkatkan kesuburan
tanah, merangsang pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme tanah yang
bermanfaat. Kondisi lahan akan menjadi lebih baik untuk tanaman lada apabila
tanaman lada dipupuk organik dari kotoran ternak ruminansia atau kompos, proses
pelapukan bahan organik lebih cepat, dan dapat menghambat perkembangan patogen
berbahaya di dalam tanah.
8. SALURAN DRAINASE DAN PEMANGKASAN BAGIAN
TANAMAN LADA
Agar kebun lada tidak tergenang air di musim hujan,
maka perlu dibuat saluran drainase. Air tergenang di kebun merupakan media yang
baik untuk perkembangan patogen BPB. Pemeliharaan tanaman lada meliputi
pemangkasan sulur cacing dan sulur gantung yang tidak berguna, dan bekas
pangkasan diolesi dengan teer/vaselin/lilin atau insektisida. Pembuangan sulur
cacing juga akan mengurangi kemungkinan terinfeksinya tanaman lada oleh Phytophthora
capsici dari tanah
9. PEMUPUKAN
DAN KOMPOSISINYA
Pemupukan tanaman lada untuk meningkatkan pertumbuhan
vegetatif dan generatif agar produktifitasnya tinggi dan kesehatan tanaman
menjadi kuat. Disamping dosis, juga harus diperhatikan komposisi dan waktu
aplikasi pupuk. Tanaman yang cukup pupuk akan lebih tahan terhadap serangan
hama penyakit.
10. PENGENDALIAN HAYATI
Penyakit BPB dapat dilakukan dengan pemberian kotoran
ternak dicampur alang-alang dan agensia hayati T. Harzianum. Aplikasi pupuk
kandang dapat dilakukan bersama dengan aplikasi alang-alang dan agensia hayati
untuk menekan terjadinya serangan P. capsici. Pemberian bahan organik harus
dibenamkan dalam tanah, di bawah tajuk tanaman lada. Ini berfungsi sebagai
sumber nutrisi bagi tanaman lada, menggemburkan tanah, dan meningkatkan
populasi mikroorganisme antagonis. Alang-alang sebagai sumber bahan organik
dapat diberikan sebagai penutup tanah. Untuk pengendalian penyakit BPB, maka
alang-alang harus dibenamkan.
11. PENYIANGAN TERBATAS
Dilakukan dengan cara bebokor dan hanya dilakukan di
sekitar tanaman lada, sebatas kanopi tanaman lada, dan sebaiknya tidak
dilakukan penyiangan bersih. Untuk meningkatkan keragaman hayati, terutama
parasitoid hama penggerek batang, sebaiknya gulma antara tanaman lada hanya
dipangkas, atau menanam tanaman berbunga diantara tanaman lada seperti kopi,
kumis kucing, jenis leguminoceae atau A. pintoi. Adanya tanaman berbunga
diantara tanaman lada atau penutup tanah yang menghasilkan bunga akan
meningkatkan keragaman dan populasi parasitoid dan menghambat penyebaran
patogen BPB pada musim hujan.
12. PEMANFAATAN AGEN HAYATI DAN KONSERVASI KEBUN
Bila dipilih varietas lada yang rentan terhadap
serangan penyakit BPB, maka agen hayati pengendali patogen harus diaplikasi
sejak awal penanaman lada dan aplikasi (perlakuan) diulang pada setiap awal
musim hujan. Konservasi kebun lada dengan menanam penutup tanah A. Pintoi dapat
menyediakan pakan ternak kambing 9 - 12 ekor/ha dan dapat menyediakan kotoran
kambing untuk pupuk lada sekitara 4 - 6 ton per tahun
13. PENGENDALIAN MEKANIS
Sesuai perilaku biologi penggerek batang fase pradewasa
(larva dan pupa) yang berada pada jaringan tanaman lada yang mati akibat
serangannya, dapat dijadikan pedoman untuk menekan populasi hama. Fase
pradewasa yang berada di dalam jaringan tanaman yang mati secara periodik
diambil untuk memutus siklus dan menekan populasi. Dengan mengambil stadia
pradewasa yang berada di dalam jaringan tanaman lada mati di kebun akan memutus
siklus hidupnya. Pengendalian cara mekanis dapat dilakukan dengan mengambil
bagian tanaman lada mati dari kebun berupa batang, cabang, dan ranting mati
kemudian dimasukkan dalam kantong plastik dan selanjutnya dimusnahkan. Dengan melakukan
pengendalian secara mekanis dapat menekan populasi hama dengan baik. Pengendalian
secara mekanis merupakan salah satu komponen dalam merakit teknologi pengendalian
hama. Pengendalian hama cara mekanis secara luas dapat memutus siklus dan
menurunkan populasi hama sampai batas tidak merugikan terhadap produksi, serta tidak
berdampak buruk terhadap lingkungan.
Tujuan GAP Lada Meningkatkan:
• Produksi/produktivitas
• Mutu (aman, higienis)
• Efsiensi produksi; memanfaatkan sumber alam
yg tersedia
• Pertahanan kesuburan lahan dan kelestarian
lingkungan
⇩• Peluang penerimaan produk oleh pasar
internasional
• agribisnis lada berkelanjutan,
• ramah lingkungan
• berdaya saing tinggi
ANALISIS USAHA TANI TANAMAN LADA
Analisis ini disusun berdasarkan penelitian terhadap
para petani di Belitung pada tahun 2001 dan didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut.
- Luas
lahan (areal perkebunan ) adaalah satu hektar; lahan milik sendiri
- Populasi
tanaman 2000 pohon; jarak tanaman 2 m x 2 m berbentuk bujur sangkar.
- Bibit
berasal dari setek batang yang diperoleh dengan cara membeli.
- Umur
panen tanaman tiga tahun setelah tanam
- Setelah
berumur satu tahun, dilakukan pemotongan batang tanaman untuk dijadikan
bibit. Penjualan bibit ini diperhitungkan sebagai pendapatan usaha tani
dengan nilai jual Rp. 500,00/bibit.
- Produksi
lada putih rata-rata 1,5 kg per pohon pada saat panen raya dan 0,5 kg per
pohon pada saat panen kecil.
- Harga
jual lada putih sebesar Rp. 30.000,00/kg di tingkat petani.
- Tanaman
memiliki masa produktif selema 10 tahun, kemudian perlu diremajakan.
- Lokasi
perkebunaan berada pada ketinggian antara 10 – 110 m dpl.
- Tenaga
kerja dihitung dalam satuan Hari Kerja Pria (HKP), yakni tujuh jam per hari.
- Biaya
tak terduga diperhitungkan sebesar 10%
dari biaya operasional.
- Bunga
modal diperhitungkan sebagai unsur biaya, yakni sebesar 20% per tahun.
- Penanaman
menggunakan sistem tajar dua kali; pada umur 0 – 12 bulan menggunakan
tajar sementara dengan harga Rp. 500,00/batang dan pada umur lebih dari 12
bulan menggunakan tajar permanen yang terbuat dari kayu mati dengan harga
Rp. 4.000,00/batang.
- Pembukaan
lahan dan penggemburan tanah dilakukan secara manual.
- Kegiatan
usaha tani berorientasi pasar komersial
- Varietas
lada yang ditanamn adalah varietas Bangka.
Perkiraan biaya dan pendapatan yang disajikan dalam analisis
kelayakan ekonomi ini akan berbeda dengan daerah lain karena adanya perbedaan
agroklimat dan agroekonomi. Namun demikian pengguunaan sarana dan prasarana
pada prinsipnya sama sehingga informasi analisis kelayakan ekonomi ini tetap
dapat digunakan sebagai pedoman usaha di daerah lain. Di samping itu, analisis ekonomi
ini tidak bersifat pemanen, melainkan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi
daerah asing-masing dan keadaan usaha tani itu sendiri.
Analisis
Usaha Tani
Sumber
:
Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit
(GIZ) GmbH. 2016. Modul 4: Praktek Budidaya Lada yang Baik – Panduan. Deutsche
Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH : Jakarta (http://www.sregip.or.id/wp-content/uploads/2017/05/Agribusiness-Modul-4.pdf)
Sarpian,
T. Pedoman Berkebun Lada Dan Analis Usaha Tani. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.(https://books.google.co.id/books?id=p_6ugz-fjg8C&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false)










